KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca
<p><strong>KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin</strong>, published by the Faculty of Ushuluddin and Dakwah Institute of Al Fithrah Surabaya. This journal contains Islamic studies which include Tafsir, Hadith, Sufism, Islamic Thought, and other Islamic studies. Published twice a year (February and August). The editorial team invites academics, lecturers, and researchers to contribute in submitting scientific articles that have never been published in other journals.</p>Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Al Fithrah Surabayaen-USKACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin2252-5890Representasi Tutur Perempuan dalam Al-Qur’an: Makna Takhda‘na bi Al-Qauli dalam QS. Al-Ahzab:32 Perspektif Kariman Hamzah
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1319
<p>Penelitian ini mengkaji makna <em>takhda‘na bi al-qauli</em> dalam QS. al-Ahzab ayat 32 melalui analisis tafsir Kariman Hamzah serta implikasinya terhadap etika komunikasi perempuan dalam konteks sosial kontemporer. Ayat tersebut selama ini sering dipahami secara normatif sebagai larangan bagi perempuan untuk melembutkan suara, khususnya dalam relasi lintas gender. Penafsiran tekstual semacam ini berpotensi menimbulkan bias gender dan membatasi peran perempuan di ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>takhda‘na bi al-qauli</em> tidak dimaknai sebagai pembatasan suara atau partisipasi perempuan, melainkan sebagai peringatan etis terhadap gaya komunikasi yang manipulatif, sugestif, atau mengeksploitasi daya tarik emosional dan sensual. Larangan tersebut bersifat moral dan kontekstual, ditujukan untuk menjaga martabat, tanggung jawab sosial, serta keadaban komunikasi, terutama dalam interaksi yang rawan penyalahgunaan relasi kuasa. Rekonstruksi makna ini menegaskan bahwa etika komunikasi perempuan tidak berfungsi sebagai instrumen pembatas, melainkan sebagai landasan moral yang memperkuat otoritas dan partisipasi perempuan dalam ruang publik, profesional, maupun media digital.</p>Fitri JayantoSuja’i SarifandiLaila Sari Masyhur
Copyright (c) 2026 Fitri Jayanto, Suja’i Sarifandi, Laila Sari Masyhur
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816221523010.36781/kaca.v16i2.1319Karakteristik Psikologis Manusia dalam Al-Qur’an: Analisis Semantik Penafsiran Al-Alusi terhadap QS. Al-Ma’arij: 19-35
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1429
<p>Penelitian ini mengkaji karakteristik psikologis manusia yang terdapat dalam QS. Al-Maʿārij ayat 19-35 merujuk pada Tafsir Ruh al-Maʿānī dengan menggunakan pendekatan analisis semantik Toshihiko Izutsu. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis <em>library research</em> dan metode deskriptif analitis. Sumber data primer adalah Kitab <em>Ruh al-Ma'ānī</em> dan teks QS. Al-Ma'ārij ayat 19-35, sedangkan sumber data sekunder meliputi kamus Arab klasik dan jurnal akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama. Pertama, QS. Al-Ma'ārij ayat 19-35 memuat dua kelompok karakteristik psikologis manusia yang mencakup tiga sifat negatif bawaan yaitu <em>halū’a</em>, <em>jazū’a</em>, dan <em>manū’a</em> ang menurut Al-Ālūsī bersumber dari keterasingan jiwa dari Allah (<em>al-ghurbah al-ruhiyyah</em>) dan tujuh sifat positif sebagai sistem terapi psikospiritual yang holistik mencakup <em>dawām al-</em><em>salāh</em>, <em>haqq ma'lūm</em>, <em>ta</em><em>sdīq yawm al-dīn</em>, <em>khawf min 'adhāb Allāh</em>, <em>hifz al-farj</em>, <em>ri'āyat al-amānah wa al-'ahd</em>, serta <em>hifz al-salāh</em>. Kedua, analisis semantik mengungkap bahwa <em>halū’a</em>, <em>jazū’a</em>, dan <em>manū’a</em> merupakan bentuk <em>mubālaghah</em> dengan intensitas psikologis tertinggi. <em>Weltanschauung</em> Al-Qur'an merumuskan bahwa manusia rapuh secara fitrah, namun dapat disempurnakan secara spiritual melalui sistem terapi yang holistik, spiritual, sosial, dan moral sekaligus. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan integrasi tafsir ishāri dengan analisis semantik untuk mengungkap dimensi psikologis dalam Al-Qur’an.</p>Imelda WatiAhmad IsnaeniMasruchin Masruchin
Copyright (c) 2026 Imelda Wati, Ahmad Isnaeni, Masruchin Masruchin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816223125710.36781/kaca.v16i2.1429Isra' Mikraj sebagai Divine Consolation: Analisis Psikologis atas Resiliensi Nabi Muhammad Saw. Pasca Tahun Kesedihan
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1339
<p>Peristiwa Isra Mikraj umumnya dikaji melalui perspektif teologis, fisika, maupun saintifik. Namun, penelitian ini berupaya mengisi celah literatur dengan menganalisis peristiwa tersebut melalui pendekatan psikologi agama. Tujuan penelitian adalah mengeksplorasi Isra Mikraj sebagai <em>divine consolation</em> atau hiburan Ilahi bagi Nabi Muhammad SAW setelah melewati <em>‘ām al-</em><em>ḥuzn</em> (tahun kesedihan), yang ditandai dengan wafatnya Sayyidah Khadijah RA dan Abu Thalib, serta penolakan ekstrem dari masyarakat Makkah dan Thaif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (<em>library research</em>) dan teknik hermeneutika psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Isra Mikraj merupakan bentuk intervensi psikologis dari Allah SWT yang berfungsi sebagai <em>divine healing</em> dan <em>spiritual coping</em>. Peristiwa ini tidak hanya memulihkan ketangguhan mental (<em>resilience</em>) Nabi Muhammad SAW, tetapi juga menghadirkan mandat ibadah salat sebagai proses terapeutik berkelanjutan bagi kesehatan mental umat Islam dalam menghadapi krisis kehidupan.</p>Nikmah RochmawatiAhmad MusyafiqNur Azizah Fitriana
Copyright (c) 2026 Nikmah Rochmawati, Ahmad Musyafiq, Nur Azizah Fitriana
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816225827010.36781/kaca.v16i2.1339Wawasan Al-Qur’an tentang Perempuan Berkarir: Kajian Hermeneutika Paul Ricoeur atas QS. Al-Ahzab:33
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1414
<p>Penafsiran QS. Al-Ahzab: 33 sering dipahami secara tekstual, yang menyebabkan pembatasan peran perempuan di ranah publik. Hal ini mencerminkan kesenjangan antara makna literal teks dan dinamika sosial kontemporer. Studi ini bertujuan untuk menafsirkan kembali ayat tersebut menggunakan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur, khususnya konsep dekontekstualisasi dan rekontekstualisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian kepustakaan dan analisis deskriptif-analitis terhadap literatur tafsir dan hermeneutika. Temuan menunjukkan bahwa, dalam bentuk dekontekstualisasinya, ayat tersebut memiliki konteks sosial-historis masyarakat Arab patriarkal dan secara khusus ditujukan kepada istri-istri Nabi. Namun, melalui rekontekstualisasi, maknanya tidak dapat dibatasi pada pemahaman literal tetapi harus mempertimbangkan transformasi sosial kontemporer. Studi ini menyimpulkan bahwa pembatasan perempuan untuk meninggalkan rumah bukanlah prinsip universal tetapi prinsip kontekstual. Oleh karena itu, perempuan diperbolehkan untuk berpartisipasi dalam kehidupan publik selama nilai-nilai etika Islam dijunjung tinggi. Studi ini menyoroti pentingnya hermeneutika dalam menghasilkan interpretasi Al-Qur'an yang kontekstual dan relevan.</p>Muhammad Falihul Anam
Copyright (c) 2026 Muhammad Falihul Anam
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816227129210.36781/kaca.v16i2.1414Interpretasi Ayat-Ayat Huzn dalam Al-Qur’an dengan Pendekatan Munasabah Makna
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1410
<p>Al-Qur’an tidak hanya membahas aspek hukum dan akidah saja, tetapi juga memberikan perhatian terhadap kondisi emosi manusia, salah satunya adalah emosi sedih (<em>huzn</em>). Dengan menggunakan salah satu metode dalam Ilmu Tafsir yaitu <em>munasabah</em> penelitian ini akan melihat bagaimana sedih dijelaskan dalam al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan <em>munasabah makna</em> yang memiliki empat langkah operasional: pertama mengungkap tema dari ayat utama, kedua mencari ayat-ayat pendukung, ketiga mendialogkan antara ayat utama dan ayat pendukung, keempat merumuskan kesimpulan. Ayat utama yang dipilih adalah Ali Imran ayat 139, sedangkan ayat pendukung adalah QS. Al-Tawbah: 40 dan QS. Yunus: 62-63. Hasil temuan berdasarkan pembacaan data tekstual terhadap Tafsir Ringkas, Tafsir Al-Azhar, dan Tafsir Al-Mishbah. Dalam QS. Ali Imran: 139, <em>huzn</em> (kesedihan) bisa berasal dari ujian yang ditimpakan kepada manusia berupa kekalahan perang. Sedangkan dalam QS. Al-Tawbah: 40 dan QS. Yunus: 62-63, salah satu sifat orang saleh adalah tidak dikuasai kesedihan yang terlalu. Berdasarkan hasil penelitian, makna kata sedih dalam al-Qur’an adalah kegelisahan batin manusia yang berkaitan dengan hal negatif yang dialami atau pernah terjadi. Emosi sedih merupakan fitrah manusia namun manusia dihimbau untuk mengaturnya dengan baik agar tidak menghambat atau melemahkan orang yang mengalaminya.</p>Ahmad Fauzan YafiMohammad Izdiyan Muttaqin
Copyright (c) 2026 Ahmad Fauzan Yafi, Mohammad Izdiyan Muttaqin
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816229330510.36781/kaca.v16i2.1410Di Antara Wahyu dan Algoritma: Teologi Islam di Era Kecerdasan Buatan
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1369
<p>Perkembangan Artificial Intelligence telah menghadirkan transformasi besar dalam struktur pengetahuan, pola keberagamaan, dan orientasi peradaban manusia modern. Dominasi algoritma digital tidak hanya memengaruhi cara manusia mengakses informasi, melainkan juga membentuk kesadaran epistemologis, otoritas religius, serta relasi manusia dengan dimensi spiritualitas. Artikel ini bertujuan menganalisis relasi antara wahyu, akal, dan kecerdasan buatan dalam perspektif Islamic Theology dan Islamic Philosophy, sekaligus mengkaji tantangan teologi Islam di tengah masyarakat algoritmik kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (<em>library research</em>) yang dipadukan dengan analisis filosofis-kritis dan pendekatan hermeneutik konseptual. Data penelitian diperoleh dari literatur filsafat Islam klasik, teori AI kontemporer, kajian agama digital, serta jurnal internasional bereputasi yang relevan dengan tema penelitian. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan AI telah melahirkan pergeseran epistemologis dari otoritas pengetahuan berbasis refleksi menuju struktur algoritmik yang menekankan efisiensi, kalkulasi data, dan percepatan informasi. Situasi tersebut memunculkan problem serius bagi epistemologi Islam karena wahyu sebagai sumber pengetahuan transenden berhadapan dengan dominasi rasionalitas digital modern. Penelitian ini juga menemukan AI tidak dapat disamakan dengan kesadaran manusia karena mesin hanya bekerja melalui simulasi komputasional tanpa dimensi ruhani, moral, dan eksistensial sebagaimana manusia dalam perspektif filsafat Islam. Selain itu, media digital berbasis algoritma telah melahirkan transformasi otoritas keagamaan yang bersifat cair, terfragmentasi, dan rentan terhadap komodifikasi agama serta polarisasi pemahaman religius. Dalam konteks tersebut, rekonstruksi teologi Islam menjadi penting untuk membangun paradigma epistemologis yang mampu mengintegrasikan perkembangan teknologi dengan nilai-nilai spiritual, etika, dan kemanusiaan. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan kajian teologi Islam kontemporer dengan menawarkan pembacaan filosofis mengenai relasi wahyu dan algoritma di era kecerdasan buatan. Kajian ini juga memperlihatkan relevansi epistemologi Islam sebagai kritik terhadap absolutisasi teknologi dan krisis spiritual dalam masyarakat digital modern.</p>Irvan Tri Ardiyanto
Copyright (c) 2026 Irvan Tri Ardiyanto
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816230633010.36781/kaca.v16i2.1369Prinsip Keadilan Sosial dalam Al-Qur’an dan Fenomena Cancel Culture di Media Sosial: Analisis QS. Al-Maidah:8 Perspektif Mufasir Kontemporer
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1363
<p>Penelitian ini mengkaji prinsip keadilan sosial dalam QS. al-Maidah: 8 perspektif mufasir kontemporer dan relevansinya terhadap fenomena <em>cancel culture</em> di media sosial. Latar belakang penelitian ini berangkat dari kesenjangan antara nilai keadilan Qur'ani yang bersifat objektif dan imparsial dengan praktik penghakiman publik di ruang digital yang kerap didominasi oleh emosi kolektif, kebencian, dan sanksi sosial yang tidak proporsional. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan (<em>library research</em>), dengan sumber primer berupa empat kitab tafsir kontemporer, yaitu Tafsir al-Maraghi karya Ahmad Mustofa al-Maraghi, Tafsir Fi Zhilalil Qur'an karya Sayyid Qutb, Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibnu ‘Ashur, dan Tafsir al-Munir karya Wahbah az-Zuhaili. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat mufasir sepakat bahwa keadilan dalam QS. al-Maidah: 8 bersifat mutlak, teosentris, dan tidak dapat dikompromikan oleh tekanan sosial maupun sentimen emosional. Adapun relevansi prinsip keadilan tersebut terhadap fenomena <em>cancel culture</em> mencakup enam dimensi, yaitu sebagai kerangka evaluatif normatif, batasan etis terhadap kemarahan kolektif, koreksi atas penghakiman tanpa verifikasi, tolok ukur tanggung jawab moral yang berjenjang, penyangga etik terhadap persekusi digital, serta landasan perlindungan martabat manusia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa QS. al-Maidah: 8 merupakan panduan etis yang relevan dan aktual dalam merespons dinamika penghakiman publik di era digital, sekaligus menyediakan landasan yang komprehensif untuk mengevaluasi dan membatasi praktik <em>cancel culture</em> agar tetap berada dalam koridor keadilan, objektivitas, dan ketakwaan kepada Allah Swt.</p>Yuni KhairaniAfrizal NurJani Arni
Copyright (c) 2026 Yuni Khairani, Afrizal Nur, Jani Arni
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816233134610.36781/kaca.v16i2.1363Hermeneutika Barat dan Tafsir Al-Qur’an: Analisis Kritis Pemikir Muslim Kontemporer
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1249
<p>Hermeneutika sebagai metode tafsir al-Qur’an merepresentasikan dialog epistemologis antara tradisi Barat dan pemikiran Muslim kontemporer. Dalam tradisi Barat, hermeneutika berkembang dari metode penafsiran kitab suci menuju filsafat interpretasi dengan konsep kunci seperti <em>fusion of horizons</em> dan <em>effective-historical consciousness</em>. Sementara itu, pemikir Muslim modern seperti Fazlur Rahman, Hasan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Farid Esack mengadaptasi prinsip hermeneutika untuk menjawab problem kontekstual, menghasilkan teori <em>double movement</em>, tafsir kontekstual, dan tafsir pembebasan. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan <em>compare–contrast–criticize</em> untuk menelaah perbedaan dan persinggungan antara kedua tradisi. Hasil kajian menunjukkan bahwa hermeneutika menawarkan peluang metodologis bagi tafsir al-Qur’an yang lebih relevan dengan modernitas, namun sekaligus menimbulkan tantangan epistemologis karena berpotensi mereduksi dimensi transendental al-Qur’an. Artikel ini berkontribusi pada pengembangan metodologi tafsir dengan menekankan perlunya integrasi kritis antara inovasi hermeneutis dan fondasi teologis Islam.</p>A Fadly Rahman AkbarSalamah NoorhidayatiAverosian Shophia MadanyRezki Kaulan MaisurahMujib Abdurrahman
Copyright (c) 2026 A Fadly Rahman Akbar, Salamah Noorhidayati, Averosian Shophia Madany, Rezki Kaulan Maisurah, Mujib Abdurrahman
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816234736510.36781/kaca.v16i2.1249Kerangka Etika Komunikasi Digital Islami: Studi Hadis atas Fenomena Meme Jomok
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1368
<p>Penelitian ini menganalisis fenomena Meme Jomok dalam ruang komunikasi digital Indonesia melalui perspektif etika komunikasi Islam berbasis hadis Nabi Muhammad SAW. Penyebaran Meme Jomok yang sarat dengan humor seksual, ambiguitas makna, dan eksploitasi tabu menunjukkan adanya krisis etika komunikasi yang semakin ternormalisasi di media sosial. Dengan menggunakan pendekatan <em>library research</em> dan metode analisis kualitatif yang meliputi pendekatan normatif-teologis, analisis isi (<em>content analysis</em>), serta historis-hermeneutis, penelitian ini mengkaji relevansi nilai-nilai hadis terhadap dinamika komunikasi digital kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Meme Jomok beroperasi melalui mekanisme ambiguitas semiotik dan secara sistematis mereproduksi nilai permisif melalui proses desensitisasi moral. Hadis Nabi, khususnya yang menekankan prinsip <em>qaulan ma‘rūfan</em>, larangan <em>al-fa</em><em>ḥsh wa al-tafaḥḥush</em>, tanggung jawab perkataan (<em>mas’ūliyyat al-kalām</em>), serta kewajiban <em>al-nahy ‘an al-munkar</em>, terbukti memiliki relevansi normatif yang kuat dan dapat dikontekstualisasikan dalam ekosistem digital melalui pendekatan <em>qiyās</em> dan <em>maqā</em><em>ṣid al-sharī‘ah</em>. Penelitian ini merekonstruksi kerangka etika komunikasi digital Islami yang terdiri atas empat lapisan prinsip: <em>tabayyun al-mu</em><em>ḥtawā, al-ta‘addud al-wazā’if al-tawāṣuliyyah, al-mas’ūliyyah al-jamā‘iyyah</em>, dan <em>al-tarbiyah al-raqmiyyah al-Islāmiyyah</em>. Kerangka ini diharapkan menjadi pedoman teologis-normatif bagi komunitas Muslim dalam menavigasi ruang digital secara etis dan bertanggung jawab.</p>Muhammad Ali MahrusMuhammad Rizieq A.G.Muhid Muhid
Copyright (c) 2026 Muhammad Ali Mahrus, Muhammad Rizieq A.G., Muhid Muhid
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816236637910.36781/kaca.v16i2.1368Formulasi Etika Penyampaian Informasi Digital dalam Al-Qur’an: Analisis Tafsir Maqasidi
https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1473
<p>Maraknya penyebaran hoaks, disinformasi, dan konten bermasalah di ruang digital merupakan persoalan sosial yang terus berkembang dan menimbulkan dampak serius bagi kehidupan individu, masyarakat, maupun stabilitas negara. Fenomena ini menunjukkan pentingnya meninjau kembali pemaknaan etika penyampaian informasi sebagaimana terkandung dalam Al-Qur’an, yang seringkali baru dipahami secara normatif dan tekstual sehingga nilai serta orientasi tujuannya belum tergali secara komprehensif. Artikel ini menggunakan pendekatan Tafsir Maqasidi untuk mengkaji penafsiran QS. Al-Hujurat: 6, QS. Al-Isra’: 36, QS. Al-Nisa’: 83, dan QS. Al-Ahzab: 70 serta merumuskan formulasi etika penyampaian informasi digital berdasarkan nilai-nilai maqāṣidī. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis library research dengan teknik analisis deskriptif analitis berbasis kerangka Tafsīr Maqāṣidī Abdul Mustaqim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat ayat membentuk satu kerangka etis yang saling melengkapi dan bekerja sinergis merespons proses penyampaian informasi digital: QS. Al-Hujurat: 6 dan QS. Al-Isra’: 36 meletakkan landasan normatif pada tahap penerimaan dan pengolahan informasi melalui kewajiban tabayyun dan penggunaan instrumen epistemik secara bertanggung jawab; QS. Al-Nisa’: 83 menekankan urgensi merujuk informasi sensitif kepada ulil amri sebelum disebarluaskan; sementara QS. Al-Ahzab: 70 mengatur tahap penyampaian melalui prinsip qawlan sadīdan. Melalui analisis <em>maqasid al-shari’ah</em> dan <em>maqasid al-Qur’an</em>, penelitian ini merumuskan lima prinsip operasional etika penyampaian informasi digital: verifikasi informasi, membangun informasi berdasarkan fakta, merujuk kepada ahli ilmu, penyampaian yang bermartabat, dan pertanggungjawaban atas informasi yang disebarkan.</p>Zainal FahmiAhmad Saddad
Copyright (c) 2026 Zainal Fahmi, Ahmad Saddad
https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
2026-08-182026-08-1816238040610.36781/kaca.v16i2.1473