KACA (Karunia Cahaya Allah): Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca <p><strong>KACA (Karunia Cahaya Allah) : Jurnal Dialogis Ilmu Ushuluddin</strong>, published by the Faculty of Ushuluddin and Dakwah Institute of Al Fithrah Surabaya. This journal contains Islamic studies which include Tafsir, Hadith, Sufism, Islamic Thought, and other Islamic studies. Published twice a year (February and August). The editorial team invites academics, lecturers, and researchers to contribute in submitting scientific articles that have never been published in other journals.</p> en-US jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com (Dr. Kusroni, M.Th.I) jurnal.kaca.alfithrah@gmail.com (Abdulloh Hanif, M.Ag) Tue, 24 Feb 2026 09:12:35 +0000 OJS 3.3.0.13 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Analisis Tafsir Ilmi Terhadap Ayat-Ayat Pergerakan Matahari dan Bulan: Perspektif Astronomi dan Hermeneutika Qur’ani https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1046 <p>Penelitian ini mengkaji tafsir ilmi atas ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas pergerakan matahari dan bulan dengan memadukan perspektif astronomi modern dan hermeneutika Qur’ani. Tujuannya adalah untuk memahami korelasi antara wahyu dan temuan ilmiah kontemporer serta menggali makna mendalam dari ayat-ayat kauniyah dalam Al-Qur’an. Metode penelitian menggunakan pendekatan tafsir ilmi yang mengintegrasikan analisis tekstual, data astronomi terkini, dan kajian hermeneutis untuk menafsirkan ayat-ayat terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ayat-ayat tersebut selaras dengan prinsip astronomi modern seperti orbit matahari yang dinamis, fase bulan yang teratur, serta keteraturan dan presisi gerak benda langit. Studi ini juga membahas kritik epistemologis terhadap tafsir ilmi, menekankan perlunya keseimbangan antara wahyu dan ilmu, serta kesadaran terhadap keterbatasan ilmu pengetahuan. Sintesis tafsir ilmi menegaskan bahwa integrasi antara wahyu dan ilmu merupakan pendekatan yang relevan dan konstruktif dalam memahami Al-Qur’an secara holistik. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan studi Al-Qur’an yang responsif terhadap kemajuan ilmu pengetahuan dan memperkaya dialog antara agama dan sains.</p> Siti Muliya Septiani Turaedi, Muthoharoh Muthoharoh, Ridho Rahmatullah, Alya Afifa Azra Daulay, Andi Rosa Copyright (c) 2026 Siti Muliya Septiani Turaedi, Muthoharoh Muthoharoh, Ridho Rahmatullah, Alya Afifa Azra Daulay, Andi Rosa https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1046 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000 Analisis Penafsiran Al-Maraghi pada Q.S Al-Maidah Ayat 20-23 dan Refleksi Kontemporer atas Konflik Israel-Palestina https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1257 <p>Penelitian ini membahas penafsiran Q.S. Al-Maidah ayat 20–23 melalui pendekatan tafsir tahlili dengan menjadikan Tafsir Al-Maraghi sebagai rujukan utama. Fokus kajian ini adalah merefleksikan kandungan ayat terhadap realitas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dalam agresi militer Israel terhadap Palestina. Ayat-ayat tersebut mengisahkan perintah Allah kepada Bani Israil untuk memasuki tanah yang dijanjikan (<em>al-ard al-muqaddasah</em>), namun mereka menolaknya karena takut terhadap kaum yang dianggap kuat. Tafsir Al-Maraghi menerangkan bahwa kegagalan Bani Israil bukan disebabkan oleh kekuatan musuh, tetapi karena lemahnya iman, keberanian, dan ketaatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan untuk menelaah korelasi antara pesan ayat dan konteks kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa janji Allah atas tanah suci bersifat kondisional, tidak berlaku mutlak berdasarkan garis keturunan, melainkan harus disertai dengan ketaatan dan keadilan. Oleh karena itu, klaim sepihak Israel atas Palestina dengan dalih warisan historis Bani Israil kehilangan legitimasi teologis. Tafsir ini tidak hanya menjadi cermin historis, tetapi juga tawaran etis bagi umat Islam untuk berpihak kepada keadilan dan membela yang tertindas. Kajian ini menegaskan pentingnya membaca Al-Qur’an sebagai sumber pembebasan sosial dan keadilan universal.</p> Rodliyatul Laila, Kiki Muhamad Hakiki, Masruchin Masruchin Copyright (c) 2026 Rodliyatul Laila, Kiki Muhamad Hakiki, Masruchin Masruchin https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1257 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000 Pengembangan Kurikulum Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir pada Perguruan Tinggi Berbasis Unity of Sciences (UoS) UIN Walisongo Semarang https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1069 <p>Tulisan ini sebagai respon atas perbedaan pendapat di antara para pakar tafsir mengenai kurikulum Prodi IAT di PTKI. Penelitian ini menawarkan konsep pengembangan kurikulum Prodi IAT berbasis unity of sciences (UoS) yang digagas UIN Walisongo Semarang dengan memfokuskan pada struktur kurikulum dan relevansinya dengan profil lulusan Prodi IAT. Penelitian ini termasuk kajian kepustakaan (<em>library research</em>), dengan menggunakan metode deskriptif-analisis dengan pendekatan interpretasi kontekstual. Temuan penting penelitian ini menyatakan bahwa struktur kurikulum Prodi IAT berbasis UoS terdiri tiga aspek. Pertama, tujuan kurikulum yaitu CPL mahasiswa mampu mengembangkan dan mempraktikkan ilmu-ilmu umum dalam kajian Al-Qur’an dan Tafsir dengan dilandasi nilai dan prinsip-prinsip agama. Kedua, materi kurikulum, yaitu penambahan mata kuliah yang sejalan dengan prinsip dan strategi UoS, serta mengarahkan orientasi mata kuliah pada prinsip dan strategi UoS. Ketiga, strategi pembelajaran berupa optimalisasi mata kuliah praktik dengan kegiatan berbasis projek dan produk yang menguatkan penguasaan mahasiswa atas teori dan internalisasi prinsip dan strategi UoS. Adapun relevansi kurikulum Prodi IAT dengan tantangan kontemporer terlihat pada tiga aspek. Pertama, distingsi kurikulum Prodi IAT berbasis UoS yang memfokuskan pada keseimbangan antara teori keilmuan tafsir, dan kemampuan mengaplikasikan paradigma UoS. Kedua, profil profesionalisme alumni Prodi IAT sebagai pribadi yang baik dalam profesi yang digelutinya, sekaligus menjadi pribadi yang responsif dan solutif terhadap problem sosial yang sedang terjadi di sekitarnya. Ketiga, karakteristik alumni Prodi IAT sebagai pribadi moderat, berwawasan luas, memiliki cara pandang holistik dan kontributif bagi kemaslahatan umat.</p> Machrus Machrus, Agus Imam Kharomen, Aissya Salsa Safriliani, Muhammad Anas Al Hazmi Copyright (c) 2026 Machrus Machrus, Agus Imam Kharomen, Aissya Salsa Safriliani, Muhammad Anas Al Hazmi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1069 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000 Kajian Tafsir Berbasis Surah: Analisis Struktur dan Historisitas Surah Al-Anbiya’ https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1070 <p>Artikel ini mengkaji struktur dan historisitas surah al-Anbiya’ melalui pendekatan tafsir <em>maudhu’i </em>(tematik berbasis surah) dan historis. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali struktur naratif dan konteks sosio-historis pewahyuan yang melatarbelakangi surah al-Anbiya’ serta mengungkap pesan-pesan tematik utamanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang mengambil data dari sumber kepustakaan (<em>library research</em>) dan dengan analisis isi (<em>content analysis</em>). Hasil penelitian menunjukkan bahwa surah al-Anbya’ sebagai golongan surah Makkiyah memiliki tema sentral yaitu penegasan akidah (tauhid), kenabian serta peringatan tentang hari kiamat dan kebangkitan. Struktur Surah Al-Anbiya’ tersusun secara sistematis dengan struktur naratif yang logis dan progresif: Dimulai peringatan keras tentang hari kiamat, dilanjutkan dengan dalil rasional tentang kekuasaan Allah, kemudian pembahasan tentang kematian, kisah-kisah nabi terdahulu sebagai bukti historis dan legitimasi kerasulan, dan ditutup dengan seruan pada persatuan dalam tauhid. Dari aspek historis, surah ini turun di tengah kondisi masyarakat Mekkah yang berada dalam kesyirikan, penolakan terhadap kenabian, serta pengingkaran terhadap hari kebangkitan. Asbabun nuzul dari beberapa ayat kunci memperkuat konteks penurunan wahyu yang relevan dengan tantangan dakwah Nabi Muhammad SAW. Surah ini memperlihatkan kesinambungan pesan dakwah dari para Nabi sebelumnya hingga Nabi Muhammad SAW, serta mengajak manusia kembali pada ajaran murni Islam. Penelitian ini membuktikan bahwa Surah Al-Anbiya’ memiliki kesatuan tematik dan retorika yang kuat, sekaligus menunjukkan respons wahyu terhadap realitas masyarakatnya.</p> Muhammad Ilham Saputra Ilham, Masruchin Masruchin, Abuzar Alghifari Copyright (c) 2026 Muhammad Ilham Saputra Ilham, Masruchin Masruchin, Abuzar Alghifari https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1070 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000 Transformasi Teologis Ratu Balqis: Tafsir QS. Al-Naml: 20-44 dengan Pendekatan Maqāṣid Al-Qur’ān Ibnu ‘Āshūr https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1196 <p>Penelitian ini mengkaji transformasi teologis Ratu Balqis dalam surah al-Naml 20–44 dengan menggunakan pendekatan maqāṣid al-Qur’ān menurut Ibnu ‘Āshūr. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya memahami proses perubahanmka keimanamika keimanan spiritual tokoh-tokoh Qur’ani, tidak hanya dari sisi naratif, tetapi juga dari tujuan-tujuan ilahi yang melandasi penyampaian kisah tersebut. Ratu Balqis merupakan figur pemimpin kerajaan Saba’ yang awalnya menganut praktik penyembahan matahari, namun melalui rangkaian dialog, pengamatan rasional, dan penyaksian mukjizat Nabi Sulaiman, ia mengalami perubahan keyakinan yang mendasar menuju pengakuan tauhid. Penelitian ini menelaah tahapan perubahan tersebut, mulai dari laporan burung hud-hud, respons diplomatis Balqis, sikap kritisnya terhadap informasi yang diterima, hingga puncak perubahan keyakinannya ketika ia menyaksikan singgasananya yang dipindahkan dengan kekuasaan Allah. Melalui analisis tafsir at-Taḥrīr wa at-Tanwīr, Ibnu ‘Āshūr menegaskan bahwa kisah Balqis bukan hanya narasi historis, melainkan cerminan maqāṣid al-Qur’ān, khususnya dalam aspek pelurusan akidah, penyucian jiwa, penguatan nilai ibrah, serta fungsi peringatan dan kabar gembira. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan keyakinan Balqis merupakan proses bertahap yang menggabungkan daya nalar, pertimbangan etis, serta pengalaman spiritual yang mendalam. Temuan ini memperlihatkan bahwa nilai-nilai maqāṣid berperan penting dalam memahami tujuan al-Qur’an menampilkan kisah tersebut, sekaligus memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan studi tafsir maqāṣidī dalam mengkaji dinamika perubahan keyakinan individu dalam al-Qur’an.</p> Syefika Septia Rahmah Ika, Hidayatullah Ismail , Jani Arni , Nixson Husin Copyright (c) 2026 Syefika Septia Rahmah Ika, Hidayatullah Ismail , Jani Arni , Nixson Husin https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1196 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000 Transformasi Karakter Manusia dalam Al-Qur’an Perspektif Sa’id Hawwa https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1232 <p>Artikel ini berusaha mencari tahu tentang transformasi perilaku atau karakter manusia. Banyak upaya yang dilakukan oleh ilmuan bahkan sebelum masa modern ini untuk memahami tentang sifat manusia, bagaimana dan darimana perilaku manusia bisa terbentuk. Peneliti mencoba menganalisis penafsiran Sa’id Hawwa dalam <em>al-Asas fi al-Tafsir</em> pada <em>nash</em> al-Qur’an yang terkait dengan transformasi perilaku manusia, sehingga penelitian ini termasuk kepada salah satu model dalam tafsir yang dikenal sebagai model tafsir <em>tahlili </em>(analisis). Data dikumpulkan menggunakan pendekatan <em>library research</em> (penelitian kepustakaan). Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tehnik dokumentasi. Penulis mengumpulkan berbagai tulisan dari artikel, buku, berita dan juga kitab tafsir yang terkait dengan transformasi manusia. Penelitian ini mendapati kesimpulan bahwa transformasi adalah hal yang nyata terjadi dan merupakan sesuatu yang terjadi ketika seseorang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu sehingga komponen takwa dan akal ditekan mengikuti keinginannya sendiri. Lingkungan juga ikut menjadi bagian yang nantinya akan membentuk perilaku atau tabiat seseorang. Hal ini karena lingkungan akan membawa pembiasaan akan setiap tindakan, sehingga jika seseorang hidup di lingkungan yang baik maka ia akan cinderung mengambil keputusan ataupun bertindak kepada hal-hal baik. Sedangkan jika seseorang tumbuh di lingkungan yang buruk, ia cenderung akan memilih pilihan-pilihan yang buruk, entah itu yang buruk bagi dirinya maupun lingkungan sekitarnya. Maka dorongan datang dari nafsu, yang nafsu itu adalah hal yang ditanamkan bersamaan dengan takwa, kemudian lingkungan membantu membentuk perilaku seseorang.</p> Wan Ulia Fitriani, Afrizal Nur, Lukmanul Hakim, Khairiah Khairiah Copyright (c) 2026 Wan Ulia Fitriani, Afrizal Nur, Lukmanul Hakim, Khairiah Khairiah https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1232 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000 Makna Simbolik dalam Pemilihan Warna Dekorasi Maulid Nabi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1193 <p>Warna dekorasi yang dipilih pada eringatan Maulid Nabi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah Surabaya adalah putih tulang, kuning emas dan hijau tosca. Selain ada otoritasasi dari sang Mu’asis, tentu pemilihan tiga warna ini syarat akan makna dan tujuan yang jarang diketahui oleh masyarakat. Penelitian ini membahas tentang tiga macam warna; kuning emas, putih tulang dan hijau tosca yang dipilih untuk warna dekorasi dalam tradisi Maulid Nabi di Pondok Pesantren Assalafi Al Fithrah. Tujuannya adalah untuk mengeksplorasi makna dan nilai-nilai yang terkandung dalam tiga warna tersebut. Pendekatan kualitatif digunakan dengan menggunakan metode wawancara yang mendalam, observasi dan analisis teks untuk memahami alasan kenapa warna-warna tersebut dipilih berdasarkan teologis dan budaya. Hasil penelitian ini memberi petunjuk bahwa masing-masing warna yang dipilih yaitu putih tulang, hijau tosca dan kuning emas, memiliki beberapa makna simbolik yang erat kaitannya dengan kemuliaan, keindahan, kesucian, ketulusan, ketenangan, kedamaian, kearifan dan kehormatan serta simbol nuansa istana orang-orang saleh. Pemilihan tiga warna ini tentu juga untuk merepresentasikan adanya hubungan harmoni antara ajaran Islam dengan keaarifan lokal, serta sarana pembelajaran bagi santri, masyarakat dan semua jamaah yang hadir dalam acara ini. Secara religius tentu tradisi ini tidak hanya memperkaya ritual Maulid, lebih dari itu tentu hal ini merupakan wadah dalam memperkuat kohesi sosial yang ada dalam lingkungan Pondok Pesantren. Dengan demikian, tujuan penelitian ini memberi kontribusi yang nyata dalam memahami interaksi sosial masyarakat yang mencakup dari berbagai macam elemen masyarakat dan kebudayaan lokal, serta adanya peran tradisi dalam pelaksanaan Maulid ini dalam menjaga dan melestarikan nilai-nilai spiritual dan sosial komunitas masyarakat Islam.</p> Nur Yasin, Wahidah Zein Br Siregar Copyright (c) 2026 Nur Yasin, Wahidah Zein Br Siregar https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1193 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000 Sains dan Hermeneutika Al-Qur’an: Membaca Ayat-Ayat Kauniyyah dalam Perspektif Ilmiah https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1202 <p>Artikel ini membahas hubungan epistemologis antara Al-Qur’an dan sains melalui pendekatan hermeneutika ilmiah. Selama sejarah intelektual Islam, relasi antara wahyu dan sains mengalami pergeseran, mulai dari harmoni pada era klasik hingga munculnya dikotomi pada era modern akibat paradigma positivistik. Di sisi lain, muncul pula kecenderungan <em>scientific exegesis </em>yang berupaya menjadikan Al-Qur’an seolah-olah kitab sains empiris. Artikel ini menawarkan hermeneutika sebagai pendekatan yang lebih proporsional dalam membaca ayat-ayat kauniyyah, yaitu dengan menempatkan sains sebagai mitra dialogis wahyu tanpa menjadikannya tolok ukur tunggal kebenaran teks suci. Pembahasan mencakup perbedaan dan titik temu epistemologis wahyu-sains, penggunaan hermeneutika sebagai jembatan pemaknaan, prinsip-prinsip paradigma keilmuan Islam, model epistemologis integratif, serta gagasan pembangunan kelembagaan pendidikan yang mampu mewujudkan integrasi ilmu. Kajian ini menunjukkan bahwa integrasi antara sains dan Al-Qur’an dapat melahirkan paradigma keilmuan tauhidi yang holistik, etis, dan relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.</p> Masruchin Masruchin, Klara Syafira, Dwima Dini Azizah, Fatimah Azzahra, Meila Fernanda Copyright (c) 2026 Masruchin Masruchin, Klara Syafira, Dwima Dini Azizah, Fatimah Azzahra, Meila Fernanda https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1202 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000 Konsep Khulu’ dalam Al-Qur’an dan Relevansinya dengan Isu Kesetaraan Jender: Perspektif Al-Tabari dan M. Quraish Shihab https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1300 <p>Isu kesetaraan jender dalam perceraian, khususnya terkait <em>khulu’</em> (cerai gugat oleh istri) masih jarang dikaji dalam studi tafsir al-Qur’an. Padahal, menurut data Badan Pusat Statistik pada tahun 2025 tercatat terdapat 394.608 kasus perceraian dan pengajuan perceraian paling banyak diajukan istri (gugat cerai) sebanyak 308.956 kasus dan sisanya oleh suami. Islam memperbolehkan perceraian namun menjadi pilihan terakhir, dan al-Qur’an juga menjelaskan tentang perceraian yang diajukan oleh pihak suami (<em>talak)</em> dan perceraian yang diinisiasi oleh istri (khulu’). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penafsiran ayat <em>khulu’ </em>pada surah al-Baqarah ayat 229 perspektif Imam Al-Tabari dan M. Quraish Shihab. Penelitian ini bersifat kepustakaan (<em>library research</em>) yang menjadikan al-Qur’an, kitab tafsir Misbah dan kitab tafsir Al-Tabari sebagai sumber primer dan untuk melengkapinya dengan berbagai macam artikel, buku-buku dan kitab fiqih sebagai sumber sekunder. Penelitian ini juga menggunakan studi komparasi bertujuan untuk membandingkan penafsiran ulama kontemporer dan penafsiran ulama klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua mufassir sepakat bahwa <em>khulu’</em> merupakan hak perempuan untuk melepaskan diri dari pernikahan ketika dikhawatirkan keduanya tidak dapat menegakkan hukum-hukum Allah. Namun terdapat sedikit perbedaan pada penegasan dalam tafsir Al-Tabari yang menekankan pada aspek historis, kondisi <em>nusyuz,</em> dan legitimasi penerimaan tebusan pemberian istri kepada suami, sedangkan dalam tafsir Misbah lebih menjelaskan prinsip keadilan, kemaslahatan, dan perlindungan terhadap perempuan dari ketidakadilan dalam rumah tangga. Dengan demikian, khulu’ dalam al-Qur’an dapat dipahami sebagai hukum Islam yang menggambarkan nilai keadilan dan kesetaraan jender dalam relasi suami istri.</p> Elima Amiroh Nur Azizah, Aziz Miftahus Surur Copyright (c) 2026 Elima Amiroh Nur Azizah, Aziz Miftahus Surur https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://jurnal.alfithrah.ac.id/index.php/kaca/article/view/1300 Mon, 23 Feb 2026 00:00:00 +0000